DAERAH

Dampingi Etik, Wahyuddin Jafar Minta Kejari Luwu Lakukan Gelar Perkara Ulang

×

Dampingi Etik, Wahyuddin Jafar Minta Kejari Luwu Lakukan Gelar Perkara Ulang

Sebarkan artikel ini

LUWU – Ketua Umum Pengurus Garuda Muda Merah Putih, Wahyudin Jafar yang turut mendampingi kasus yang dijeratkan kepada Etik, mantan Kades Rante Ballla dalam steatmennya siap melakukan pengawalan.

Wahyuddin menyebutkan, sebelum melakukan pendampingan ia bersama timnya telah mengumpulkan sejumlah bukti untuk memulai perlawanan hukum terhadap kasus yang menjerat Kades Rante Balla.

Ia juga meminta Kejaksaan Negeri Luwu untuk melakukan gelar perkara ulang atas penetapan tersangka Etik.

Wahyu menyebut ada tindakan diskriminatif dalam penanganan perkara ini. Harusnya menurut Wahyu, Junaidi ikut terseret dalam kasus ini.

“Kami tegas meminta Kejaksaan Negeri Luwu melakukan gelar perkara ulang, menghadirkan para pihak yang katanya jadi korban pungli,” kata Wahyuddin Djafar.

Status tersangka Etik sebagai kepala desa terkesan dipaksakan dan sama sekali tidak ada pihak yang telah dirugikan. Wahyu meminta agar Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Andi Ryan memberikan atensi pada perkara ini.

“Karena fakta yang kami temukan di lapangan sangat bertentangan dengan penetapan tersangka pada klien kami,” ujarnya.

Wahyuddin juga membeberkan, setelah mempelajari kasus yang dihadapi Kades Rante Balla, menurut Wahyudin yang seharusnya tersangka dalam hal ini bukan Kades Rante Balla, tapi seseorang yang melakukan transfer sejumlah uang secara diam-diam ke rekening Etik.

Mengetahui dana itu bukan haknya kata Wahyuddin, Etik pun mengembalikan ke pihak yang melakukan transfer senilai 125 juta yang kemudian disita oleh pihak polres Luwu sebagai barang bukti dan juga menyita jumlah yang sama yakni 125 juta lagi di rekening Mandiri milik Etik. Sehingga total uang yang disita oleh Polres Luwu sebagai barang bukti total berjumlah 250 juta.

“Di rekening Etik sudah di sita 125 juta dan diambil lagi di tangan inisial J dan inisial A 125 juta juga berarti 250 juta yang polisi sita, ” ujar Wahyuddin mengutip dari penyampaian Etik.

Sementara itu, Etik menegaskan status tersangkanya terkesan dipaksakan dan dikriminalisasi. Pembelaan dirinya itu didasarkan pada sejumlah fakta.

Etik kemudian menguraikan bahwa pada tahun 2022 saat kasus ini masih diselidiki polisi, dia telah berinisiatif mengembalikan uang senilai Rp125 juta kepada warga yang diduga korban pungutan liar.

“Jauh sebelum kasus ini berstatus penyidikan yang kemudian saya ditetapkan tersangka, uangnya sudah kami kembalikan kepada warga dan kami punya dokumentasi pengembalian itu. Fakta berikutnya tidak ada warga yang keberatan dan tidak pernah mempermasalahkan apalagi membuat laporan polisi,”sebutnya.

“Boleh ditanyakan langsung pada dua orang warga yang disebut sebagai korban, kami sama sekali tidak pernah memberikan nomor rekening kami apalagi sampai meminta uang,” ujarnya.

Etik lalu menyebut nama Junaidi sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini. Junaidilah yang mengambil nomor rekeningnya lalu dikirimkan ke dua warga tadi. Etik mengaku tidak mengetahui jika ada warga yang mentransfer uang hingga Rp 125 ke rekening pribadinya.

Saat kasus ini naik kepenyidikan, Polisi kemudian menyita uang Rp 125 juta tadi, kemudian menyita lagi Rp 125 juta pada warga yang mentransfer tadi.

Meski demikian, Etik mengaku legowo dan berinisiatif menemui dua warga tadi lalu memberikan uang senilai Rp 125 juta. Uang itu diserahkan pada bulan September 2022 atau satu tahun sebelum kasusnya berstatus sidik.

“Tapi yang membuat kami heran, kenapa penyidik juga menyita uang senilai Rp 125 dari rekening kami juga menyita uang dengan nilai yang sama pada warga. Total yang yang disita sebanyak Rp 250 juta, padahal jika benar terjadi pungutan liar harusnya hanya Rp 125 juta yang diamankan,” tuturnya.

Atas kasus yang meninmpanya ini, Etik meminta kepada aparat hukum khususnya terhadap Satuan Reskrim Polres Luwu agar kasus ini digelar ulang kembali.

“Saya siap menempuh jalur ke tingkat yang lebih tinggi seperti kejati atau ke polda bahkan menghadap ke Presiden RI Jokowi agar saya mendapatkan keadilan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *