LUWU – Bupati Luwu, Patahudding melepas Kontingen Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang akan berangkat menuju Provinsi Gorontalo, di Belopa, Rabu (17/6/2026).
Sebanyak 31 peserta yang mewakili berbagai subsektor pertanian dan perikanan akan mengikuti ajang nasional tersebut.
Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran, pertukaran pengalaman, serta penguatan jejaring antarpetani dan nelayan dari seluruh Indonesia.
Patahudding berpesan agar seluruh peserta menjaga kekompakan, disiplin, serta nama baik Kabupaten Luwu selama mengikuti kegiatan di Gorontalo.
“Jaga kebersamaan, disiplin, dan nama baik daerah selama berada di Gorontalo. Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan baik dan membawa manfaat bagi pengembangan sektor pertanian dan perikanan di Kabupaten Luwu,” ujarnya.
Ia berharap keikutsertaan kontingen pada PENAS XVII mampu menghasilkan pengalaman, pengetahuan, dan inovasi yang dapat diterapkan setelah kembali ke daerah.
“Kami harapkan dari PENAS yang diikuti ini dapat membawa hasil yang baik untuk dibawa pulang dan diterapkan demi kemajuan petani dan nelayan di Kabupaten Luwu,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Hidayat Ilyas, menjelaskan bahwa kontingen Kabupaten Luwu yang mengikuti PENAS XVII berjumlah 31 orang.
Peserta terdiri atas unsur petani tanaman pangan, perkebunan, nelayan, peternak, lembaga ekonomi pertanian, serta peserta pendamping dari organisasi perangkat daerah terkait.
Menurut Hidayat, momentum PENAS XVII diharapkan dapat dimanfaatkan peserta untuk menambah wawasan dan membangun jejaring yang mendukung peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani dan nelayan di daerah.
“Kami berharap peserta dari Kabupaten Luwu dapat memanfaatkan momentum kegiatan untuk menambah wawasan dan membangun jejaring yang dapat mendukung peningkatan produktivitas,” ungkapnya.
“Serta kesejahteraan petani dan nelayan, sehingga ke depan mampu mengangkat nama dan martabat Kabupaten Luwu di tingkat regional maupun nasional,” pungkasnya (Wahyudi Baso)







