LUWU – Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu pada 2025 mencapai 7,43 persen. Capaian ini menempatkan Luwu di posisi kedua tertinggi dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Data tersebut merujuk pada rilis resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan terkait Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut kabupaten/kota di Sulawesi Selatan periode 2022–2025.
Angka 7,43 persen pada 2025 meningkat signifikan sebesar 3,07 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 4,36 persen. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir perjalanan ekonomi daerah berjuluk Bumi Sawerigading tersebut.
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Luwu dalam enam tahun terakhir menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2019 tercatat 6,26 persen, kemudian anjlok menjadi 1,3 persen pada 2020 akibat pandemi Covid-19. Tahun 2021 ekonomi kembali pulih ke angka 6,03 persen, namun melandai pada 2022 menjadi 5,69 persen, 2023 sebesar 5,64 persen, dan turun lagi ke 4,36 persen pada 2024. Lonjakan pada 2025 pun menjadi sinyal kuat kebangkitan ekonomi daerah.
Bupati Luwu, Patahudding, menyebut capaian tersebut sebagai harapan baru di tengah upaya pemerintah daerah menekan laju inflasi.
“Naiknya pertumbuhan ekonomi menjadi harapan setiap kepala daerah di tengah upaya masif menekan inflasi. Pencapaian ini sesuai tagline pembangunan Luwu, Bangkit Lebih Cepat Bersama Rakyat. Keberhasilan ini bukan karena saya, melainkan hasil kerja semua pihak serta partisipasi aktif masyarakat. Hasil survei BPS ini tentu akan menjadi dasar untuk berbuat lebih optimal lagi ke depan,” ujar Patahudding, 28 Februari 2026.
Sementara itu, Kepala Bappelitbangda Luwu, Moch Arsal Arsyad, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 2025 ditopang sejumlah sektor unggulan yang mendapat intervensi kebijakan pemerintah daerah selama kepemimpinan Patahudding–Dhevy.
Menurutnya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 3,22 persen. Disusul sektor industri pengolahan sebesar 1,54 persen, perdagangan besar dan eceran 0,68 persen, serta konstruksi 0,49 persen.
“Laju pertumbuhan ekonomi dengan selisih 3,07 persen ini memperlihatkan tekad kita untuk bangkit lebih cepat bersama rakyat. Pencapaian ini juga sejalan dengan visi Kabupaten Luwu, menjadikan Luwu Unggul, Berkarakter dan Berbasis Agribisnis. Tingginya kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi bukti arah pembangunan kita sudah tepat,” tandas Arsal.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang mengukur peningkatan kemampuan suatu daerah dalam memproduksi barang dan jasa. Ukuran yang digunakan adalah kenaikan PDRB atas dasar harga konstan yang mencerminkan pertumbuhan riil dari waktu ke waktu.
Dengan capaian tersebut, Luwu menunjukkan optimisme baru untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah sekaligus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.







