HUKRIM

Dendam Usai Dianiaya Ayah, Remaja di Makale Bacok Ibu Kandung

×

Dendam Usai Dianiaya Ayah, Remaja di Makale Bacok Ibu Kandung

Sebarkan artikel ini
ilustrasi: Anak Bacok Ibu (Int)

TANA TORAJA – Peristiwa tragis mengguncang warga Kelurahan Kamali Pentalluan, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Senin (2/3/2026) sekitar pukul 11.40 Wita.

Seorang remaja berinisial IA (18) tega membacok ibu kandungnya sendiri, AT (36), hingga mengalami sejumlah luka serius.

Aksi nekat tersebut diduga dipicu rasa dendam setelah pelaku mengaku dianiaya oleh ayahnya sehari sebelum kejadian.

Kasat Reskrim Polres Tana Toraja, Iptu Syafaruddin, menjelaskan bahwa pada Minggu (1/3/2026), IA mengaku dianiaya oleh ayahnya hingga menimbulkan rasa sakit hati dan dendam.

“Sehari sebelum kejadian, pelaku mengaku dipukul oleh ayahnya. Hal itu diduga memicu emosi yang memuncak,” ujar Syafaruddin kepada waratwan, (02/03/1026).

Pada Senin sekitar pukul 11.00 Wita, IA hendak mencari makan. Namun karena tidak menemukan makanan di dapur, emosinya kembali tersulut. Dalam kondisi marah, ia mengambil sebilah parang sepanjang kurang lebih 45 sentimeter dan menyerang ibunya secara brutal.

“Pelaku mengayunkan parang ke arah korban secara berulang kali,” jelas Syafaruddin.

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka robek di kedua tangan dan kaki, serta sejumlah luka di bagian tubuh lainnya.

Tak hnya itu, ditemukan pula luka lecet di kaki kanan dan punggung kanan, serta luka gigitan di lengan dan punggung kanan. Korban segera dilarikan untuk mendapatkan penanganan medis.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa satu bilah parang dan satu unit telepon genggam.

Kasus ini diduga berawal dari konflik internal keluarga yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Penyidik masih mendalami kondisi psikologis pelaku serta latar belakang pertikaian yang terjadi sebelum insiden pembacokan.

Saat ini, IA telah diamankan di Mapolres Tana Toraja untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya penyelesaian konflik keluarga secara bijak dan tanpa kekerasan, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.